oase of history

Pemerintah Republik Indonesia Mempertahankan Keberadaannya di Kota Padang 1945-1947

February 5, 2009 · Leave a Comment

Oleh Andri/ 84180068

Bagaimana para pemimpin dan pemuda dalam mewujudkan alat-alat perlengkapan pemerintah Republik Indonesia di Kota Padang? Bagaimana bentuk politik yang dijalankan pemerintah daerah Padang pada saat tersebut, dimana di satu sisi mengonsolidasikan anasir-anasir kekuatan yang ada, serta di sisi lain Belanda juga menjalankan pemeritahan a la mereka sendiri? Rintangan apa saya yang mereka hadapi?

Penelitian Andri ini berusaha menjabarkan kepada kita periode-periode awal perjalanan proklamasi dan pemerintahan republik yang disambut antusias oleh masyarakat kota Padang. Keterbatasn sarana dan prasarana pasca pengumuman kemerdekaan di “Pengangsaan” tidak menjadikan republik muda mati layu sebelum berkembang. Antusiasme dan support daerah mendirikan sebuah “pemerintah darurat” guna mendukung Jakarta besar artinya bagi keberlanjutan negara bangsa Indonesia. Andri memberi kita data dan gambaran yang jelas bagaimana perjalanan pemerintahan itu akhirnya efektif melalui beberapa perundingan dengan Belanda.

Pembentukan Komita Nasional Indonesia Daerah (KNID) dan peran para mantan anggota Gyu Gun menjadi pilar utama kota Padang sebagai bagian dari Republik Muda”. Namun pasca periode pemerintahan Walikota Bagindo Azis Chan, pemerintahan tidak lagi berdaya dan akhirnya dipindahkan ke Padangpanjang guna mempertahankan kemerdekaan Republik sampai tahun 1949 (penyerahan kedaulatan).

→ Leave a CommentCategories: Sejarah Lokal

Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumatera Barat 1966-2004

February 1, 2009 · Leave a Comment

Oleh Yesmawati

(Fakultas Sastra Universitas Andalas, Padang, 2006)

Salah satu organisasi utama pengembangan budaya Minangkabau kontemporer adalah Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau. Lembaga ini menjadi penyalur barbagai pemikiran keminangkabauan dalam konsep pemeliharaan yang ditujukan kepada kaum mudanya. Namun ironinya, justru masa reformasi ini LKAAM dianggap kontroproduktif oleh generasi muda Minang, bahkan mereka meminta supaya lembaga ini dibubarkan.

LKAAM dalam penelitian Yesmawati tidak bisa dilepaskan dari proyek Orde Baru menumpas PKI di Sumatera Barat. Pasca kekalahan orang Minang dalam perang PRRI tahun 1958 menjadikan daerah Sumatera Barat sebagai salah satu basis PKI di Indonesia. Namun munculnya G30/S menjadi antiklimaks bagi PKI dan pendukungnya ketika mereka ditumpas oleh AD dengan menggerakan kekuatan-kekuatan antikomunis, dan di Sumatera Barat diantaranya adalah kaum adat dan agama. Guna keperluan itu, khusus untuk kaum adat, AD kemudian mendirikan LKAAM.

Semakin kuatnya rezim Orde Baru dan beralihnya isu komunis ke politik praktis Golkar membuat LKAAM mengalami dilema. Satu sisi mereka mesti bekerja keras mengembalikan jiwa kultural orang Minang pasca PRRI tersebut. Tapi di sisi lain, lembaga ini justru dijadikan corong program pemerintah dan mesin politik Golkar di setiap Pemilu.

Reformasi membuat LKAAM mengalami metamorfosis baru, setidaknya dalam penelitian ini ke arah yang lebih independen. Tapi seindenpenden apa LKAAM? Inilah pertanyaan epilog dari penelitian Yesmawati yang patut dicarikan jawabannya.

→ Leave a CommentCategories: Sejarah Lokal

Peranan Rahma el Yunusiyyah dalam Pendidikan Islam Wanita di Minangkabau

February 1, 2009 · Leave a Comment

Oleh Huriyati

(Fakultas Sastra Universitas Andalas, Padang, 1987)

Bagaimanakah perjuangan seorang wanita Indonesia dalam bidang pendidikan Islam memajukan kaumnya sendiri? Mengapa pendidikan terhadap perempuan itu penting ketika sistem sosialnya justru menjamin kemakmuran dan keseimbangan kehidupannya? Bukankah di Minangkabau, harta pusaka merupakan milik perempuan yang digunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan mereka?

Tiga pertanyaan tersebut tampaknya berusaha dijawab oleh Huriyati dalam penelitiannya terhadap Rahma el Yunisiyyah. Rahmah adalah pendiri utama sekolah Dinniyah Putri di Padangpanjang.

Di Indonesia umumnya, dan di Sumatera Barat khususnya, nama sekolah Dinniyah Putri merupakan jaminan keterdidikan (educated) seorang perempuan. Sekolah ini sangat terkenal bahkan beriringan dengan kebesaran nama sekolah Sumatra Thawalib, Adabiah School di Padang, dan bagian dari lingkaran “Kaum Muda” di tahun 1920-an lalu.

Nasionalisme, kebebasan, dan kecakapan sosial-ekonomi, menurut Huriyati merupakan faktor utama pendirian Dinniyah Putri oleh Rahmah. Ide-ide ini jelas sebuah terobosan luar biasa bagi seorang perempuan di zaman itu. Rahmah adalah “kekuatan diam” yang berusaha mencuat dikerumunan kekuatan-kekuatan yang mengandalkan tradisi dan kecakapan primodial-patriarki yang tampak kuat dalam masyarakat Minangkabau. Huriyati ternyata mampu menjelaskan hal tersebut, dan inilah menyebabkan penelitiannya begitu bernilai (valuable).

→ Leave a CommentCategories: Sejarah Lokal

Role of Rahma el Yunusiyyah on Minangkabau Women Islamic Education

February 1, 2009 · Leave a Comment

By Huriyati

(Faculty of Letters, Andalas University, Padang, 1987)

How an Indonesian woman, a Minangkabaunese, expands education of her community, but the society underestimates her ability? Why it is important? Isn’t the social system of Minangkabau guaranteed a prosperous and balance for the women within legacy of custom?

Those questions are main idea of Huriyati’s research that she might answer. Rahma is the founding mother of Dinniyah Putri School, and Huriyati tries to explore her role.

Dinniyah Putri School is a prominent education institution for young women, commonly in Indonesia, and particularly in West Sumatra. Name’s of Dinnyah Putri School is a warranty of knowledgeable. The glorious of Dinniyah Putri School same as Sumatera Thawalib, Adabiah School at Padang, and linkage of The Kaum Muda Movement in West Sumatra at early twenty centuries.

This school teaches their student with nationalism, liberty, and social-economy capability that Huriyati described as base of Dinniyah Putri established. Those ideas for them era clearly is progressive, and Rahma is a woman. The research exposes of hidden power of women, and it comes and strikes the patriarchy domination of Minangkabau traditions. Huriyati successes to explain it, and makes her research so valuable for us.

→ Leave a CommentCategories: Local History

Kehidupan Sosial-ekonomi Perantau Minangkabau di Kota Pekanbaru: Studi Kasus Kecamatan Sukajadi 1960-2000

February 1, 2009 · Leave a Comment

Oleh Amitri Yulia

(Fakultas Sastra Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat, 2004)

Penelitian Amitri Yulia ini menjelaskan perubahan sosial para perantau Minang di Sukajadi, Pekanbaru, Riau. Yulia juga menjelaskan eksistensi mereka terkait dengan perkembangan kota Pekanbaru sendiri.

Batasan temporal penelitian Yulia ini adalah tahun 1960. Menurutnya tahun tersebut menjadi titik balik bagi pengembangan Pekanbaru sebagai sebuah kota dagang seiring dengan dibangunnya pusat-pusat perbelanjaan, gedung-gedung pemerintahan, serta pemukiman. Orang Minangkabau sebagai salah satu etnis dagang kemudian tertarik dan mulai menghuninya, sehingga untuk kecamatan Sukajadi, terdapat lebih kurang 40% populasinya adalah orang Minang. Jumlah itu merupakan mayoritas dibandingkan etnis lain seperti Jawa, Batak, bahkan orang Melayu sendiri.

Seiring makin banyaknya orang Minang menduduki posisi-posisi di pemerintahan, industri, perusahaan swasta, selain dunia dagang, Kota Pekanbaru bukan lagi menjadi rantau, tapi ”darek” baru. Apalagi Yulia menjelaskan bagaimana traumanya mereka jika kembali ke negeri asalnya (Sumatera Barat) pasca tragedi PRRI tahun 1958. Di Sukajadi inilah mereka kemudian mulai mendefinisikan dirinya sebagai orang Minang, urban, dan plural.

→ Leave a CommentCategories: Sejarah Lokal

Social-Economy living of Minangkabaunese Migrant at Pekanbaru City: Case of Sukajadi District at 1960-2000

February 1, 2009 · Leave a Comment

By Amitri Yulia

(Faculty of Letters, Andalas University, Padang, 2004)

Amitri Yulia explores on the subject of social change of the Minangkabaunese migrant and their relation with growth of Pekanbaru city.

Her temporal subject begins at 1960. The 1960 is a turning point of Pekanbaru City to become a trader city. Malls, government buildings, schools, and housing are new face of Pekanbaru city since 1960. For that situation, Minangkabaunese—a trader ethnic in Indonesia—make their new home after the gloomy of PRRI (The Indonesian of Republic Revolutionary Government). They came to Sukajadi District and soon becoming resident.

Since 1960, the most of population of Sukajadi district is Minangkabaunese. Yulia estimates 40% of population of Sukajadi placed by Minangkabaunese. It is majority amount than Javanese, Bataknese, and Malay selves as native.

Years after, Minangkabau people works not as trader only, but also has position in government, industry, etc. They had smelted with others populace. Yulia explains that the assimilation has made them to redefine their homeland (Minangkabau), but still recognized it as root of origin. PRRI has made them trauma and just come to their homeland when they are in holiday. In conclusion, Yulia state that became resident of Sukajadi, the Minangkabaunese has transformed to pluralist, and urbanite, but still united with their ancient custom.

→ Leave a CommentCategories: Local History